Imam Mosque – Melihat Bukti Kejayaan Islam
Ditulis oleh infokito™ di/pada 7 September 2007
Sejak lama umat Islam di Indonesia dicekoki sejarah bahwa Islam pernah mengungguli bangsa Barat dalam hal sains, teknologi, dan perkembangan budaya. Namun, kita hanya mengenal karya tertulis mereka. Jika berkunjung ke Iran, kita bisa menyaksikan saksi dari kecanggihan perkembangan teknologi umat Islam abad pertengahan. Masjid Jami dan bangunan teknik di Iran adalah salah satu buah dari kecanggihan teknologi baik fisik, arsitektur, maupun budaya itu.
Masjid Imam (Imam Mosque) yang berada di Grand Bazaar Esfahan menjadi contoh sebuah perpaduan yang sempurna dari masjid sebagai pusat kegiatan umat. Masjid ini dibangun pada tahun 1600-an masa Raja Abbasiah I (dinasti Safavid). Lokasinya di pasar terbesar yakni Grand Bazaar. Masjid Imam menjadi center point areal Grand Bazaar.
Arsitektur masjid ini dirancang oleh Ali Esfahani di atas lahan total seluas 12.264 meter pesegi. Masjid ini diperkirakan menghabiskan 18 juta batu bata dan 472.500 keramik. Hampir seluruh dinding masjid ditutup keramik mozaik dengan perpaduan warna biru (turquise) dan coklat, serta kuning. Ada juga penutup tiang dari marmer hijau yang tampak amat jernih. Motif keramik bervariasi dari bunga, geometris (perpaduan Indo Europian dan Sasanid).
Satu hal yang juga telah dipikirkan arsitek masjid pada abad ke-17 ini adalah bangunan tahan gempa. Arsitek Iran memahami bahwa wilayahnya termasuk ring of fire dan ring of earthquake. Jadi, mereka harus mendesain bangunan yang kokoh dan tak goyah oleh gempa. Buktinya, berabad-abad masjid itu masih tegak berdiri.
Di Masjid Imam, tiang-tiang utama penyangga bangunan dibuat beberapa lapis. Tiang dengan tinggi sekitar 50 meter dibagi menjadi empat bagian mulai dari dasar, bawah, tengah, dan penopang atap. Pada setiap pertemuan antarsisi terdapat besi dan kayu yang menyerupai per. Sehingga, jika gempa mengguncang, tiang hanya akan bergoyang dan bangunan pun tetap berdiri hingga sekarang.
Di Masjid Jami, pemisah tiang berupa kayu yang bisa bergeser jika terjadi gempa. Masjid Jami dibangun pada masa dinasti Seljuk sekitar abad ke-9 Masehi dan tampak masih sangat kokoh. Berbeda dengan Masjid Imam yang semua dinding ditutup keramik, Masjid Jami dibuat dari bata saja tanpa diplester dan diaci. Baik di Masjid Jami maupun di Masjid Imam, per dan kayu dapat terlihat jelas karena ada bagian beton yang terkelupas dan bagian kayu yang menjorok keluar.
Dahulu, pasti belum ada teknologi pengeras suara. Karena, teknologi modern baru berkembang setelah zaman renaisance. Tapi, sang arsitek Muslim telah memikirkan bagaimana caranya seluruh jamaah dapat mendengarkan suara imam dan bilal dengan jelas. Dome atau kubah masjid menjadi kunci utama. Kubah masjid yang bagian luarnya juga dihias dari keramik bermotif bunga dengan warna hijau dan biru turquoise, ternyata terdiri atas dua lapis kubah, luar dan dalam. Antara kedua bagian itu terdapat ruang kosong.
Pada ruang shalat, di belakang imam, tepat di bawah titik tengah kubah terdapat batu hitam. Di situlah sang bilal (muazin) atau yang mengiringi imam shalat berdiri. Sehingga, ketika bilal mengumandangkan azdan, iqamat, atau takbiratul ihram mengikuti imam, suaranya bisa didengar di seluruh bagian masjid. Suaranya bergema dan itu masih bisa dilakukan hingga sekarang, beberapa abad setelah masjid dibangun. Masjid ini juga dilengkapi teknologi astronomi yang terkesan sederhana namun sulit bagi sebagian awam memikirkan hal itu.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar